Satu mesin produksi yang berhenti selama dua jam dapat menggeser jadwal produksi, menunda pengiriman, dan memicu biaya lembur. Ketika riwayat kerusakan tidak terdokumentasi, tim maintenance biasanya hanya memadamkan masalah yang muncul tanpa mengetahui pola kegagalannya.
Artikel ini membahas 7 jenis maintenance , tujuan dan fungsinya, perbedaan setiap strategi, contoh penerapannya, serta cara memilih pendekatan yang paling sesuai untuk aset perusahaan.
Key Takeaways
Setiap jenis maintenance dirancang untuk kondisi berbeda sehingga memilih yang tepat bisa menekan biaya dan downtime.
Jenis utama meliputi preventive, predictive, corrective, breakdown, scheduled, RCM, dan condition-based maintenance.
Tanpa strategi yang jelas, perusahaan rentan terhadap downtime tak terduga, pemborosan biaya, dan riwayat aset yang tidak lengkap.
Software maintenance membantu menjadwalkan work order, merekam riwayat aset, mengelola suku cadang, dan memantau performa.
Apa Itu Maintenance?
Maintenance adalah serangkaian kegiatan untuk menjaga, memeriksa, memperbaiki, dan memastikan aset fisik dapat beroperasi sesuai fungsi serta standar yang ditetapkan.
Dalam praktiknya, maintenance bukan sekadar memperbaiki aset setelah rusak. Maintenance mencakup proses yang lebih luas, mulai dari identifikasi aset hingga evaluasi performa aset.
Tujuan dan Fungsi Maintenance dalam Operasional Perusahaan
Maintenance bukan sekadar perbaikan mesin, melainkan fondasi yang menjaga aset tetap tersedia, aman, dan produktif. Berikut tujuan dan fungsi utamanya dalam operasional perusahaan.
1. Memastikan Ketersediaan dan Memperpanjang Usia Pakai Aset
Aset harus siap digunakan ketika dibutuhkan. Pemeriksaan dan perawatan berkala membantu memperlambat keausan komponen sehingga aset dapat digunakan sesuai umur ekonomisnya dan kapasitas produksi tetap terjaga.
2. Mengendalikan Biaya Downtime dan Total Biaya Kepemilikan
Biaya aset tidak hanya berupa harga pembelian. Perawatan terencana menekan risiko kerusakan besar yang menghentikan produksi sekaligus mengendalikan pengeluaran untuk energi, suku cadang, tenaga kerja, dan perbaikan sepanjang siklus hidup aset.
3. Menjaga Keselamatan Kerja dan Kepatuhan Operasional
Kondisi aset yang tidak layak meningkatkan risiko kecelakaan. Riwayat pemeriksaan, kalibrasi, perbaikan, dan penggantian komponen juga menjadi bukti bahwa perusahaan menjalankan kontrol operasional secara konsisten untuk keperluan audit.
4. Menjaga Kualitas Produk dan Performa Aset
Mesin yang tidak stabil menghasilkan produk cacat atau output yang tidak sesuai standar. Data maintenance digunakan untuk menghitung availability, MTBF, MTTR, biaya perbaikan, dan pola kerusakan sebagai dasar perbaikan berkelanjutan.
5. Mengelola Inspeksi, Perbaikan, dan Suku Cadang
Tim memeriksa kondisi fisik aset secara berkala, melakukan aktivitas perawatan rutin seperti pelumasan dan penggantian filter, memastikan komponen penting tersedia saat work order dibuat, dan mencatat seluruh riwayat pengerjaan sebagai dasar evaluasi.
7 Jenis Maintenance yang Perlu Dipahami
Setiap jenis maintenance memiliki cara kerja, kebutuhan data, biaya, dan tingkat pencegahan risiko yang berbeda. Perusahaan biasanya menggunakan kombinasi beberapa strategi sesuai karakteristik aset.
1. Preventive Maintenance
Preventive maintenance adalah perawatan yang dilakukan secara terjadwal sebelum aset mengalami kerusakan. Jadwal dapat ditentukan berdasarkan waktu, jam operasi, jumlah siklus, jarak tempuh, atau rekomendasi pabrikan.
Contoh penerapan: Perusahaan manufaktur menjadwalkan pemeriksaan sistem hidrolik mesin press setiap 500 jam operasi. Teknisi memeriksa tekanan, mengganti oli, membersihkan filter, dan mengganti seal apabila masa pakainya sudah tercapai.
Cocok untuk:
- Aset kritis dengan pola keausan yang dapat diprediksi
- Mesin dengan rekomendasi perawatan yang jelas dari pabrikan
- Operasi dengan biaya downtime yang tinggi
2. Predictive Maintenance
Predictive maintenance menggunakan data kondisi aktual aset untuk memprediksi kemungkinan kerusakan sebelum kegagalan terjadi.
Contoh penerapan:Â Sensor pada motor conveyor mendeteksi peningkatan getaran selama tiga hari berturut-turut. Tim maintenance menjadwalkan pemeriksaan bearing pada akhir pekan sebelum komponen mengalami kerusakan total.
Cocok untuk:
- Aset bernilai tinggi
- Aset yang kegagalannya berdampak besar pada produksi
- Perusahaan yang telah memiliki sensor dan data operasional
3. Corrective Maintenance
Corrective maintenance adalah perbaikan yang dilakukan setelah ditemukan kerusakan atau penyimpangan, tetapi sebelum aset mengalami kegagalan total.
Contoh penerapan: Inspeksi menemukan adanya kebocoran kecil pada pipa pendingin. Karena kebocoran belum mengganggu produksi, perbaikan dijadwalkan pada akhir shift setelah suku cadang tersedia.
Cocok untuk:
- Kerusakan ringan yang belum menghentikan operasi
- Aset dengan redundansi atau unit cadangan
- Perusahaan yang ingin menghindari perbaikan darurat
4. Breakdown Maintenance
Breakdown maintenance adalah perawatan yang dilakukan setelah aset benar-benar mengalami kerusakan atau berhenti berfungsi.
Contoh penerapan: Perusahaan menggunakan breakdown maintenance untuk printer kantor, lampu area parkir, atau kipas sederhana di ruang penyimpanan yang tidak memengaruhi proses utama ketika mengalami kerusakan.
Cocok untuk:
- Aset non-kritis
- Aset dengan harga penggantian rendah
- Aset yang memiliki unit pengganti
5. Scheduled Maintenance
Scheduled maintenance adalah perawatan yang dilakukan berdasarkan jadwal kalender, kontrak vendor, kebijakan perusahaan, atau persyaratan regulasi.
Contoh penerapan: Genset perusahaan diperiksa setiap enam bulan oleh vendor sesuai kontrak layanan. Jadwal tersebut tetap dijalankan meskipun kondisi genset belum menunjukkan tanda kerusakan.
Cocok untuk
- Aset yang terikat kontrak layanan
- Peralatan yang membutuhkan sertifikasi berkala
- Aset dengan jadwal inspeksi yang ditentukan regulasi
6. Reliability Centered Maintenance
Reliability Centered Maintenance atau RCM adalah pendekatan yang menentukan strategi maintenance berdasarkan fungsi aset, mode kegagalan, dampak kegagalan, dan tingkat risiko.
Cocok untuk:
- Pembangkit listrik
- Industri minyak dan gas
- Fasilitas farmasi
- Industri penerbangan
- Operasi dengan risiko keselamatan dan finansial yang tinggi
7. Condition Based Maintenance
Condition Based Maintenance atau CBM adalah perawatan yang dipicu oleh kondisi aset ketika melewati ambang batas tertentu.
Contoh penerapan: Sistem pendingin ruang server memicu work order ketika suhu inlet berada di atas 27 derajat Celsius selama lebih dari 30 menit.
Cocok untuk:
- Aset yang memiliki indikator kondisi terukur
- Perusahaan yang mulai menerapkan sensor
- Operasi yang membutuhkan respons berdasarkan ambang batas tertentu
Berikut kami berikan tabel perbandingan untuk memudahkan Anda membandingkan setiap jenis maintenance.
| Jenis Maintenance | Pemicu | Kebutuhan Data | Biaya Penerapan | Risiko Downtime | Aset yang Sesuai |
|---|---|---|---|---|---|
Preventive |
Jadwal waktu atau jam operasi | Riwayat penggunaan dan rekomendasi pabrikan | Menengah | Rendah | Aset kritis dengan pola keausan yang dapat diprediksi |
Predictive |
Prediksi kondisi aset | Sensor dan histori performa | Tinggi | Sangat rendah | Aset bernilai tinggi dan kritis |
Corrective |
Anomali atau kerusakan yang ditemukan | Hasil inspeksi | Menengah | Rendah hingga menengah | Aset dengan kerusakan ringan |
Breakdown |
Aset berhenti berfungsi | Tidak selalu membutuhkan data historis | Rendah | Tinggi | Aset non-kritis dengan biaya penggantian rendah |
Scheduled |
Kalender, kontrak, atau regulasi | Data jadwal dan dokumen layanan | Menengah | Rendah | Aset dengan kewajiban inspeksi berkala |
RCM |
Analisis fungsi dan risiko kegagalan | Data aset, FMEA, dan dampak operasi | Tinggi | Sangat rendah | Industri kritis dan berisiko tinggi |
CBM |
Ambang batas kondisi aset | Sensor atau hasil pengukuran | Menengah hingga tinggi | Rendah | Aset dengan parameter kondisi yang terukur |
Cara Memilih Jenis Maintenance yang Tepat
Tidak ada satu jenis maintenance yang paling baik untuk semua aset. Strategi yang tepat harus ditentukan berdasarkan risiko operasional, kondisi aset, kebutuhan produksi, kemampuan tim, dan anggaran perusahaan.
1. Nilai Kekritisan Aset
Mulailah dengan mengelompokkan aset berdasarkan dampak kegagalannya terhadap operasi.
| Kategori Aset | Ciri Utama | Strategi yang Relevan |
|---|---|---|
Kritis |
Kegagalan menghentikan produksi, mengganggu keselamatan, atau memengaruhi pelanggan secara langsung | Preventive, predictive, CBM, atau RCM |
Semi-kritis |
Kegagalan mengganggu aktivitas tertentu, tetapi masih tersedia cadangan atau alternatif | Preventive atau corrective terencana |
Non-kritis |
Kegagalan tidak memengaruhi proses utama dan mudah digantikan | Breakdown atau scheduled maintenance |
2. Toleransi Downtime
Perusahaan perlu menetapkan berapa lama aset boleh berhenti sebelum menimbulkan dampak yang tidak dapat diterima.
-
- Tidak dapat menerima downtime: untuk aset yang berkaitan dengan keselamatan, produksi utama, atau layanan pelanggan. Gunakan predictive, RCM, preventive, atau CBM.
- Downtime terbatas masih dapat diterima: apabila perusahaan memiliki buffer produksi, unit cadangan, atau jadwal kerja alternatif. Preventive dan corrective terencana dapat menjadi pilihan.
- Downtime dapat diterima: untuk aset pendukung yang tidak mengganggu operasi utama. Scheduled atau breakdown maintenance dapat digunakan.
3. Pola Kerusakan Aset
Perhatikan apakah kerusakan aset mengikuti pola tertentu. Jika komponen biasanya aus setelah jumlah jam operasi tertentu, preventive maintenance dapat diterapkan. Jika perubahan suhu, getaran, atau tekanan muncul sebelum kerusakan, CBM atau predictive maintenance lebih sesuai.
Apabila tidak ada pola yang jelas, perusahaan dapat memulai dari inspeksi berkala dan corrective maintenance. Setelah data terkumpul, strategi dapat dievaluasi kembali.
4. Anggaran dan Kesiapan Teknologi
Anggaran dan ketersediaan teknologi sering menjadi faktor penentu yang paling realistis dalam memilih jenis maintenance. Tabel berikut membantu mencocokkan kondisi perusahaan dengan pendekatan yang sesuai.
| Kondisi Perusahaan | Strategi Awal | Prioritas Pengembangan |
|---|---|---|
Anggaran terbatas |
Scheduled dan breakdown untuk aset non-kritis | Inventaris aset, klasifikasi risiko, dan pencatatan riwayat |
Anggaran menengah |
Preventive dan corrective terencana | Jadwal work order, stok suku cadang, dan laporan performa |
Anggaran tinggi |
Predictive, CBM, atau RCM untuk aset kritis | Sensor, integrasi data, analisis risiko, dan otomatisasi |
Kapan Suatu Jenis Maintenance Tidak Cocok Digunakan?
Preventive dan scheduled maintenance kurang tepat jika jadwal perawatan dibuat hanya berdasarkan kalender tanpa mempertimbangkan kondisi aktual aset. Condition-based atau predictive maintenance menjadi pilihan yang lebih efisien dalam situasi ini.
Predictive maintenance tidak ekonomis untuk aset bernilai rendah yang biaya sensornya melebihi potensi kerugian akibat kerusakan. Preventive atau breakdown maintenance lebih realistis untuk kategori aset tersebut.
Corrective dan breakdown maintenance paling berisiko diterapkan pada aset kritis yang tidak memiliki unit pengganti. Untuk aset seperti ini, preventive, predictive, atau reliability-centered maintenance jauh lebih sesuai.
Kelola Maintenance Lebih Rapi dengan Software Manufaktur EQUIP
Tanpa sistem yang terintegrasi, jadwal maintenance mudah terlewat, riwayat aset tersebar di banyak file, dan keputusan perawatan bergantung pada ingatan teknisi. Software manajemen aset EQUIP membantu perusahaan mengelola seluruh proses tersebut dalam satu platform.
Fitur yang umumnya dibutuhkan meliputi:
- Pembuatan work order: untuk mengatur pekerjaan, teknisi, prioritas, estimasi waktu, dan status pengerjaan.
- Pencatatan riwayat aset: mencakup inspeksi, kerusakan, perbaikan, biaya, dan suku cadang.
- Pengelolaan stok suku cadang: agar komponen penting tersedia ketika dibutuhkan.
- Pemantauan biaya dan analisis performa aset: berdasarkan MTBF, MTTR, kategori biaya, dan periode untuk membantu manajer menentukan prioritas investasi.
Kesimpulan
Memilih jenis maintenance yang tepat bukan tentang mengikuti tren, melainkan mencocokkan strategi dengan realita operasional. Kekritisan aset, toleransi downtime, dan anggaran yang tersedia adalah tiga penentu utamanya.
Keberhasilan program maintenance tidak ditentukan oleh seberapa canggih strategi yang dipilih, melainkan seberapa konsisten strategi itu dieksekusi. Di sinilah sistem yang terintegrasi menjadi pembeda nyata.
FAQ Seputar Jenis Maintenance


