Last Mile Delivery Adalah: Proses, Biaya, dan Dampaknya bagi Pelanggan

Last Mile Delivery Adalah: Proses, Biaya, dan Dampaknya bagi Pelanggan

Last Mile Delivery Adalah: Proses, Biaya, dan Dampaknya bagi Pelanggan

Pesanan sudah keluar dari gudang, tetapi alamat tidak lengkap, lalu lintas, atau jadwal kurir yang tidak sesuai membuat pelanggan belum menerima barang. Pengantaran ulang pun menambah biaya dan menjadikan last mile delivery sebagai titik penting dalam ketepatan waktu serta pengalaman pelanggan.

Artikel ini akan membahas pengertian last mile delivery, prosesnya, perbedaan first mile dan middle mile, masalah yang umum terjadi, metrik kinerja, serta cara meningkatkan efisiensi pengiriman.

Key Takeaways

Last mile delivery adalah tahap terakhir pengiriman ke pelanggan.

Prosesnya mencakup alokasi kurir, penyusunan rute, pengantaran, dan bukti penerimaan.

Metrik pengiriman membantu mengukur ketepatan waktu, biaya, dan gagal kirim.

Software terintegrasi menghubungkan pesanan, rute, kurir, dan status pengiriman.

Daftar Isi

Apa itu Last Mile Delivery?

Last mile delivery merupakan proses pengantaran barang dari titik distribusi terakhir menuju alamat pelanggan. Titik awalnya dapat berupa gudang lokal, pusat sortir, toko, atau hub milik perusahaan logistik. Titik akhirnya adalah rumah pelanggan, kantor, toko, atau lokasi lain yang tercantum pada pesanan.

Kualitas last mile delivery memengaruhi tiga hal utama, yaitu ketepatan waktu, biaya per pesanan, dan pengalaman pelanggan. Keterlambatan atau pengantaran ulang dapat membuat biaya operasional meningkat sekaligus menurunkan kemungkinan pelanggan melakukan pembelian berikutnya.

Bagaimana Proses Last Mile Delivery Berlangsung?

Proses last mile delivery dimulai setelah barang selesai diproses di gudang atau pusat distribusi. Setiap tahap perlu terhubung agar informasi pesanan, alamat, kurir, status pengiriman, dan bukti penerimaan tetap konsisten.

1. Barang tiba di hub atau gudang lokal

Barang dari pusat distribusi utama dikirim ke hub yang lokasinya lebih dekat dengan pelanggan. Pada tahap ini, barang dipindai, dikelompokkan berdasarkan area tujuan, dan disiapkan untuk dikirim bersama pesanan lain.

2. Pesanan dialokasikan kepada kurir

Perusahaan menentukan kurir berdasarkan wilayah, kapasitas kendaraan, jenis barang, dan batas waktu pengiriman. Pesanan yang memerlukan penanganan khusus, seperti barang mudah rusak atau bernilai tinggi, perlu diberi instruksi tambahan.

3. Rute pengiriman disusun

Rute dibuat dengan mempertimbangkan jarak, urutan alamat, kondisi lalu lintas, jam operasional pelanggan, dan target waktu tiba. Penggunaan route optimization membantu perusahaan mengurangi jarak tempuh dan waktu yang terbuang.

4. Kurir mengantarkan barang

Kurir mengambil barang dari hub, mengikuti rute yang ditentukan, lalu mengirimkan pesanan ke alamat pelanggan. Pelanggan biasanya menerima notifikasi berisi status pengiriman atau perkiraan waktu kedatangan.

5. Penerimaan dan bukti pengiriman dicatat

Setelah barang diterima, perusahaan menyimpan bukti pengiriman, seperti tanda tangan, foto, kode OTP, atau nama penerima. Jika pelanggan tidak dapat menerima barang, sistem harus mencatat alasan gagal kirim dan tindakan berikutnya.

Perbedaan First Mile, Middle Mile, dan Last Mile Delivery

Ketiga istilah ini menjelaskan tahapan berbeda dalam perjalanan barang. Memahami perbedaannya membantu perusahaan menentukan titik masalah dalam proses distribusi.

TahapRute UtamaFokus OperasionalContoh
First milePenjual atau produsen ke gudang awalPengumpulan dan konsolidasi barangBarang dari pemasok dikirim ke pusat distribusi
Middle mileAntargudang atau antarkotaTransportasi jarak menengah dan pemindahan antarhubBarang dari Jakarta dikirim ke hub Surabaya
Last mileHub lokal ke pelanggan akhirKetepatan waktu, rute, bukti penerimaan, dan gagal kirimKurir mengirim pesanan dari hub ke rumah pelanggan

Mengapa Last Mile Delivery Sering Mengalami Masalah?

Masalah pada tahap terakhir pengiriman biasanya berasal dari kombinasi faktor operasional dan kondisi lapangan. Perusahaan perlu mengelompokkan penyebabnya agar perbaikan dapat dilakukan pada sumber yang tepat.

  • Alamat pelanggan tidak lengkap: Alamat tanpa nomor rumah, patokan lokasi, atau informasi akses dapat membuat kurir membutuhkan waktu lebih lama.
  • Kepadatan lalu lintas dan perubahan rute: Kemacetan, penutupan jalan, cuaca, dan pembatasan kendaraan dapat menggeser waktu kedatangan.
  • Pelanggan tidak berada di lokasi: Pengiriman dapat gagal ketika pelanggan tidak ada di rumah, toko tutup, atau tidak ada pihak yang diberi wewenang untuk menerima barang.
  • Informasi status tidak akurat: Status pengiriman yang terlambat diperbarui membuat pelanggan tidak mengetahui posisi pesanan. 
  • Kapasitas kurir tidak seimbang: Jumlah pesanan yang meningkat pada periode promosi, hari libur, atau musim tertentu dapat melebihi kapasitas kurir. 

Dampak Last Mile Delivery terhadap Biaya dan Pengalaman Pelanggan

Last mile delivery tidak hanya berkaitan dengan ongkos kendaraan. Setiap kegagalan pengiriman dapat memunculkan biaya tambahan dan memperpanjang waktu tunggu pelanggan.

Berikut ilustrasi sederhana. Sebuah perusahaan memiliki 20 pesanan dengan biaya pengiriman awal Rp400.000. Biaya rata-rata per pesanan adalah:

Rp400.000 ÷ 20 pesanan = Rp20.000 per pesanan

Dua pesanan gagal diterima dan harus dikirim ulang dengan biaya tambahan Rp15.000 per pesanan. Total biaya berubah menjadi:

Rp400.000 + (2 × Rp15.000) = Rp430.000

Biaya rata-rata pengiriman kemudian menjadi:

Rp430.000 ÷ 20 pesanan = Rp21.500 per pesanan

Dalam ilustrasi ini, biaya rata-rata meningkat Rp1.500 per pesanan. Jika kejadian yang sama berlangsung terus-menerus, perusahaan menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi dan risiko kehilangan pelanggan.

Metrik untuk Mengukur Kinerja Last Mile Delivery

Perusahaan perlu mengukur kinerja berdasarkan data pengiriman, bukan hanya jumlah pesanan yang berhasil dikirim. Metrik berikut membantu mengidentifikasi titik masalah.

MetrikCara MengukurManfaat
On-time delivery ratePesanan tepat waktu ÷ total pesanan × 100%Menilai kepatuhan terhadap target waktu tiba
First-attempt delivery ratePesanan berhasil pada percobaan pertama ÷ total pesanan × 100%Mengukur efektivitas pengantaran awal
Average delivery costTotal biaya pengiriman ÷ jumlah pesananMemantau biaya rata-rata per pesanan
Return atau failed delivery ratePesanan gagal atau dikembalikan ÷ total pesanan × 100%Menemukan masalah alamat, pelanggan, dan proses kurir

Cara Meningkatkan Efisiensi Last Mile Delivery

cara meningkatkan efisiensi last mile delivery

Perbaikan last mile delivery perlu menggabungkan perencanaan rute, kualitas data, komunikasi pelanggan, dan pemantauan status. Perusahaan dapat memulai dari proses yang paling sering menimbulkan keterlambatan.

1. Periksa kualitas alamat sebelum barang dikirim

Gunakan validasi alamat, nomor telepon, patokan lokasi, dan catatan akses sebelum pesanan dialokasikan kepada kurir. Data yang lengkap mengurangi waktu pencarian lokasi dan risiko pengantaran ulang.

2. Kelompokkan pesanan berdasarkan wilayah

Pengelompokan berdasarkan area membantu perusahaan mengurangi jarak tempuh dan membuat beban kerja kurir lebih seimbang. Konsep hub and spoke dapat membantu mengatur perpindahan barang dari pusat distribusi menuju hub lokal.

3. Gunakan pelacakan status secara real time

Pembaruan status yang konsisten membantu tim operasional mengetahui apakah barang masih berada di hub, sedang dibawa kurir, tertunda, atau sudah diterima. Pelanggan juga mendapatkan informasi yang lebih jelas mengenai pesanan mereka.

4. Siapkan prosedur untuk gagal kirim

Perusahaan perlu memiliki aturan mengenai jumlah percobaan pengiriman, waktu pengantaran ulang, biaya tambahan, dan cara menghubungi pelanggan. Semua alasan gagal kirim perlu dicatat agar dapat dianalisis.

5. Integrasikan data pengiriman dengan sistem operasional

Integrasi dengan transportation management system membantu perusahaan menghubungkan pesanan, kendaraan, rute, status pengiriman, dan bukti penerimaan dalam satu alur kerja.

Kesimpulan

Last mile delivery perlu dipandang sebagai titik kendali pengalaman pelanggan dan profitabilitas, bukan sekadar tahap mengantar barang. Kinerja yang baik membutuhkan data yang konsisten, pembagian tanggung jawab yang jelas, dan penanganan pengecualian sebelum berkembang menjadi biaya tambahan.

Perbaikan paling bernilai tidak selalu berarti menambah kurir. Perusahaan perlu menemukan penyebab biaya per pesanan meningkat, lalu menjadikan data pengiriman sebagai dasar evaluasi SLA, kapasitas, dan prioritas perbaikan ketika volume pesanan bertambah.

FAQ Last Mile Delivery

Tanggung jawab biasanya dibagi antara tim gudang, dispatcher, kurir, customer service, dan manajer operasional. Pembagian ini perlu disertai indikator yang jelas agar penyebab keterlambatan dapat ditelusuri.

Target waktu pengiriman dapat ditentukan berdasarkan jarak, wilayah layanan, jam operasional pelanggan, jenis barang, kapasitas armada, dan kesepakatan service level agreement.

Jasa 3PL dapat dipertimbangkan ketika volume pesanan berubah-ubah, cakupan wilayah luas, atau perusahaan belum memiliki armada dan sistem pelacakan yang memadai. Biaya, kontrol layanan, dan kualitas data perlu dibandingkan sebelum mengambil keputusan.

Data minimum mencakup waktu berangkat, waktu tiba, status pengiriman, alasan gagal kirim, biaya per rute, jarak tempuh, kurir, kendaraan, dan bukti penerimaan.

Darren Pratama

Senior Technical Writer

Berpengalaman 6 tahun di bidang inventory, Darren Pratama menekuni peran sebagai Senior Technical Writer dengan fokus pada kontrol stok dan operasional gudang. Topik yang sering dibahas mencakup warehouse management system (WMS), barcode & RFID, inventory forecasting, manajemen multi-gudang, serta optimasi layout gudang. Gaya penulisan menekankan struktur yang rapi, akurasi istilah, dan konteks kerja harian agar mudah dipahami pembaca.

Rian adalah Senior ERP Consultant dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam mengoptimalkan manajemen persediaan di berbagai industri. Dengan sertifikasi CPIM (Certified in Planning and Inventory Management), Rian memiliki keahlian dalam perencanaan persediaan, pengendalian stok, serta integrasi sistem ERP untuk mendukung efisiensi rantai pasok.

EQUIP mengikuti standar editorial yang ketat dan menggunakan sumber utama seperti regulasi, panduan industri, dan publikasi terpercaya.

Estimasi waktu membaca: 7 menit