Dalam keseharian bisnis, menentukan harga tidak selalu sesederhana menambahkan angka lalu selesai. Banyak bisnis menggunakan pendekatan tertentu agar harga tetap konsisten meski biaya produksi dan operasional berubah dari waktu ke waktu. Salah satu pendekatan yang paling umum digunakan adalah mark up pricing.
Mark up pricing merupakan metode penetapan harga dengan menambahkan persentase tertentu di atas biaya. Metode ini membantu bisnis memahami struktur harga secara lebih terukur, terutama saat ingin menjaga keseimbangan antara biaya dan keuntungan.
Key Takeaways
Mark up pricing adalah metode menentukan harga dengan menambah persentase keuntungan.
Fungsi mark up antara lain membantu bisnis menetapkan harga yang stabil dan terkontrol.
Manfaat mark up adalah meningkatkan profit, efisiensi, dan kemudahan perencanaan.
Tantangan mark up muncul saat biaya berubah dan pasar sangat kompetitif.
- Mark Up Pricing dalam Praktik Penetapan Harga
- Keuntungan Mark Up Pricing dalam Bisnis
- Dampak Mark Up Pricing dalam Kelancaran Bisnis
- Contoh Penerapan Mark Up Pricing
- Tantangan Implementasi Mark Up Pricing
- Tips Melakukan Mark Up Pricing yang Tepat
- Studi Kasus: Penerapan Software Akuntansi dalam Strategi Mark Up Pricing
- Kesimpulan
Mark Up Pricing dalam Praktik Penetapan Harga
Mark up adalah harga tambahan terhadap total biaya barang atau jasa yang memberi penjual keuntungan. Mark up sendiri merupakan salah satu metode penetapan harga yang dianggap paling sederhana dan praktis serta paling banyak diterapkan.
Kebalikan dari mark up, mark down adalah upaya yang dilakukan dalam penurunan harga jual. Mark down merupakan sebuah reduksi dari harga ritel awal atau disebut sebagai penurunan margin.
Keuntungan Mark Up Pricing dalam Bisnis
Markup pricing merupakan strategi yang banyak digunakan bisnis untuk menentukan harga jual dengan menambahkan persentase tertentu di atas biaya. Cara ini membantu menjaga keuntungan tetap stabil, membuat proses penetapan harga lebih mudah, dan memastikan bisnis tetap kompetitif.
1. Menentukan keuntungan yang konsisten
Dengan markup pricing, bisnis dapat menjaga margin profit tetap stabil karena persentase keuntungan sudah ditetapkan sejak awal. Strategi ini membantu perusahaan menghindari kerugian akibat perubahan biaya dan memudahkan perencanaan keuangan jangka panjang.
2. Mempermudah penetapan harga
Metode ini membuat proses menentukan harga lebih cepat karena perusahaan hanya perlu menambah persentase markup dari total biaya. Pendekatan ini cocok untuk bisnis yang ingin efisien tanpa analisis rumit sehingga keputusan harga bisa dilakukan lebih praktis.
3. Mengurangi risiko kerugian
Markup pricing membantu bisnis menutup semua biaya produksi dan operasional sebelum menghitung keuntungan. Dengan begitu, risiko menjual produk di bawah biaya dapat ditekan, membuat kondisi finansial lebih aman meskipun pasar sedang tidak stabil.
4. Membantu pengendalian biaya
Strategi ini mendorong bisnis lebih disiplin dalam mencatat dan memahami struktur biaya. Semakin akurat pencatatannya, semakin tepat pula harga yang terbentuk, sehingga perusahaan bisa menjaga efisiensi dan meningkatkan potensi profit.
Dampak Mark Up Pricing dalam Kelancaran Bisnis
Melakukan markup pricing memberikan banyak manfaat bagi bisnis, terutama dalam menjaga stabilitas keuntungan. Dengan menambahkan persentase tertentu pada biaya, perusahaan dapat mengontrol margin, menata strategi harga lebih rapi, dan memastikan produk tetap bernilai di pasar.
1. Meningkatkan stabilitas keuntungan
Markup pricing membantu bisnis menjaga margin profit tetap aman karena perhitungan keuntungan sudah ditentukan sejak awal. Dengan cara ini, perusahaan bisa menghindari fluktuasi pendapatan dan memastikan pemasukan lebih stabil dari waktu ke waktu.
2. Memudahkan perencanaan keuangan
Metode ini membuat proses budgeting lebih terarah karena biaya dan margin sudah jelas. Perusahaan dapat merencanakan pengeluaran, investasi, dan strategi jangka panjang dengan lebih percaya diri berkat struktur harga yang konsisten.
3. Meningkatkan efisiensi operasional
Karena proses penetapan harga menjadi lebih sederhana, tim operasional bisa bekerja lebih efisien. Perusahaan tidak perlu melakukan analisis harga berulang kali, sehingga waktu dan energi dapat dialihkan ke aktivitas yang lebih strategis.
4. Mengurangi ketidakpastian dalam penetapan harga
Dengan markup yang sudah ditentukan, bisnis tidak perlu ragu dalam menentukan harga jual. Pendekatan ini membantu mengurangi kesalahan penetapan harga yang bisa menyebabkan kerugian atau harga terlalu rendah di bawah biaya produksi.
Contoh Penerapan Mark Up Pricing
PT XYZ merupakan perusahaan yang bergerak di bidang furniture khusus pembuatan meja dan kursi kerja. PT XYZ mendapat order berupa 60 kursi dan 10 meja kerja. Customer juga meminta PT XYZ untuk merakit meja dan kursi tersebut di kantor mereka.
Total biaya pembuatan untuk kursi sebesar Rp 1.000.000 per kursi dan biaya pembuatan meja sebesar Rp 5.000.000 per meja. Total biaya perakitan di kantor customer sebesar Rp 10.000.000. Jika PT XYZ ingin mendapatkan keuntungan 30% dari pesanan tersebut, berapa harga jualnya ke customer? Cara menghitung mark up untuk contoh soal diatas dilakukan dengan 2 langkah berikut :
Langkah 1 : Hitung total biaya pesanan
Rumus Total Biaya Pesanan (TBP):
Langkah 2 : Tentukan harga jual dengan persentase 30%.
Rumus Markup:
Dari contoh soal tersebut dan perhitungan di atas bisa disimpulkan bahwa agar PT XYZ mencapai persentase mark up 30%, maka harga jual meja, kursi dan biaya perakitannya adalah sebesar Rp 156.000.000.
Tantangan Implementasi Mark Up Pricing
Meskipun markup pricing terlihat sederhana, penerapannya tidak selalu mulus di semua jenis bisnis. Beberapa tantangan muncul saat perusahaan harus menyesuaikan biaya, membaca pasar, dan menjaga harga tetap kompetitif, sehingga strategi ini perlu dilakukan dengan lebih hati-hati.
1. Kesulitan menyesuaikan dengan perubahan biaya
Biaya produksi bisa berubah sewaktu-waktu, dan markup pricing sering tidak cukup fleksibel untuk mengikuti perubahan tersebut. Jika biaya naik tetapi markup tetap sama, harga bisa menjadi kurang akurat dan mengurangi margin keuntungan.
2. Risiko harga menjadi kurang kompetitif
Ketika pesaing menawarkan harga lebih rendah, markup pricing dapat membuat produk terlihat lebih mahal. Hal ini bisa menurunkan daya tarik produk dan memengaruhi keputusan pembelian konsumen, terutama di pasar yang sensitif harga.
3. Ketergantungan pada akurasi pencatatan biaya
Strategi ini sangat mengandalkan data biaya yang tepat. Jika pencatatan tidak akurat, harga jual bisa salah hitung, menyebabkan kerugian atau harga terlalu tinggi yang akhirnya menghambat penjualan.
4. Kurang mempertimbangkan value terhadap pelanggan
Markup pricing fokus pada biaya, bukan nilai yang dirasakan pelanggan. Akibatnya, perusahaan bisa kehilangan peluang menetapkan harga berdasarkan value, terutama jika produk sebenarnya memiliki manfaat lebih yang bisa dihargai lebih tinggi.
Dalam praktiknya, tantangan mark up pricing biasanya bukan soal cara menghitungnya, melainkan soal menjaga data biaya tetap rapi, menyesuaikan harga dengan kondisi pasar, dan memahami nilai yang dirasakan pelanggan.
– Victo Glend, Head of Digital Marketing Dept.
Tips Melakukan Mark Up Pricing yang Tepat
Menghitung mark up dapat menjadi keterampilan yang bermanfaat baik seseorang memiliki perusahaan kecil mereka sendiri atau bertindak sebagai chief financial officer. Terdapat beberapa tips dalam menghitungnya, Ini dapat Anda terapkan pada hampir semua skenario bisnis. Berikut beberapa tipsnya:
1. Pertimbangkan target penjualan
Untuk dapat menentukan harga jual, Anda tidak bisa memutuskan begitu saja nominalnya, karena harus ada pertimbangan ke target penjualan. Target penjualan bisa Anda jadikan acuan untuk menentukan seberapa banyak Mark Up yang Anda butuhkan.
Begitu pula dengan Mark Down, Anda juga bisa menjadikan target penjualan selama masa promosi untuk menentukan seberapa besar Mark Down yang Anda berlakukan, supaya meskipun ada pengurangan dari harga jual tapi perusahaan tetap tidak merugi. Anda bisa menghitungnya secara otomatis menggunakan sistem akuntansi yang otomatis melakukan perhitungan dan laporan keuangan.
2. Perhitungkan biaya operasional
Sebelum melakukan Mark Up pada barang, ada baiknya Anda menghitung terlebih dahulu biaya operasional yang Anda keluarkan. Setelah itu, Anda bisa menambahkan biaya pembelian barang dengan biaya operasional yang kemudian Anda dengan jumlah barangnya. Setelah perhitungan biaya barang dan biaya operasional selesai barulah Anda bisa menentukan berapa banyak Mark Up yang akan Anda kenakan.
3. Bandingkan harga dengan kompetitor
Yang namanya sebuah bisnis pasti ada pesaing, kan? Untuk itu Anda harus sering-sering mengecek harga yang pesaing Anda tawarkan terhadap produk yang sama. Hal ini harus Anda lakukan untuk produk dengan kondisi pasar oligopoli, yaitu yang memiliki beberapa atau banyak pesaing dan produk sejenis. Jangan sampai harga produk Anda terlampau mahal, karena hal tersebut bisa menyebabkan konsumen lebih memilih berbelanja di pesaing Anda.
Dengan memahami dan menerapkan tips di atas, Anda bisa menentukan strategi mark up yang efektif. Optimalkan juga bisnis anda, dengan penggunaan aplikasi pembukuan untuk membantu proses perhitungan, agar setiap keputusan harga didasarkan pada data yang akurat.
Studi Kasus: Penerapan Software Akuntansi dalam Strategi Mark Up Pricing
Suatu perusahaan yang bergerak di bidang distribusi produk konsumsi menggunakan software akuntansi modern untuk membantu pencatatan biaya dan perhitungan harga jual. Dengan data biaya yang tercatat secara terpusat, perusahaan dapat menghitung mark up berdasarkan angka yang konsisten, meskipun terjadi perubahan pada biaya bahan baku dan operasional.
Melalui laporan keuangan yang tersaji lebih rapi dan mudah dipantau, manajemen memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai margin setiap produk. Hal ini memudahkan perusahaan mengevaluasi strategi mark up yang digunakan, menyesuaikan harga secara terukur, dan menjaga konsistensi keuntungan tanpa harus mengandalkan perhitungan manual.
Kesimpulan
Strategi mark up dan mark down sama-sama berpengaruh langsung terhadap kondisi keuangan perusahaan. Karena itu, penerapannya tidak bisa dilakukan asal menambah atau mengurangi harga, tetapi perlu didasarkan pada perhitungan biaya yang jelas dan pemahaman terhadap struktur keuangan bisnis secara menyeluruh.
Dengan perhitungan yang tepat dan pencatatan keuangan yang rapi, bisnis dapat melihat dampak penetapan harga secara lebih objektif. Data biaya dan laporan keuangan yang akurat membantu pengambilan keputusan harga menjadi lebih terukur, sehingga strategi yang digunakan benar-benar selaras dengan kondisi operasional perusahaan.
FAQ tentang Mark Up
Mark up adalah persentase yang ditambahkan ke biaya untuk menentukan harga jual, sedangkan margin dihitung dari selisih harga jual dan biaya. Keduanya sering tertukar karena sama-sama berbicara soal keuntungan, tetapi titik hitungnya berbeda.
Mark up pricing relevan saat struktur biaya relatif jelas dan bisnis ingin menjaga konsistensi harga. Metode ini biasanya digunakan sebagai pendekatan dasar sebelum dikombinasikan dengan pertimbangan pasar atau nilai produk.
Data biaya produksi, biaya operasional, dan perubahan biaya dari waktu ke waktu menjadi faktor utama. Tanpa pencatatan yang rapi, hasil perhitungan mark up mudah meleset dari kondisi sebenarnya.



